Nabi bersabda: “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr
(malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan
Ramadhan”
Dari Aisyah radhiallahu’anha, Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersabda:
“Carilah oleh kalian keutamaan
lailatul qadr (malam kemuliaan) pada malam-malam ganjil di sepuluh malam
terakhir bulan Ramadhan”.
Takhrij Singkat
Hadits
Hadits ini shahih. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam kitab
Shahih-nya (2017), Muslim dalam kitab Shahih-nya pula (1169), dan para Imam
hadits lainnya; dari hadits Aisyah radhiallahu’anha.
Penjelasan Hadits
“Malam kemuliaan” dikenal dengan
malam Lailatul Qadr, yaitu satu malam yang penuh dengan kemuliaan, keagungan
dan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala, karena malam itu merupakan permulaan
diturunkannya al-Quran. (Lihat al-Quran dan terjemahnya, cetakan Mujamma’ Malik
Fahd). Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah Ta’ala:
“(1) Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. (2) Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu? (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (4)
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya
untuk mengatur segala urusan. (5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar” (QS. Al-Qadr: 1-5).
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya
pada suatu malam yang diberkahi…” (QS. Ad-Dukhaan: 3).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah (774 H) berkata, “(Malam yang
diberkahi) itulah Lailatul Qadr, (yang terjadi) pada bulan Ramadhan,
sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan Al-Quran…” (QS. Al-Baqarah: 185).
Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dan yang lainnya berkata,
‘Allah telah menurunkan al-Quran dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (di langit
dunia) secara langsung (sekaligus), kemudian menurunkannya kepada Rasulullah
secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa-peristiwa (yang terjadi semasa
hidupnya) selama dua puluh tiga tahun’”1.
Dengan demikian, jelaslah alasan mengapa Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam perintahkan umatnya agar sungguh-sungguh mencari
keutamaan malam Lailatul Qadr ini. Terlebih lagi, pada hadits yang lain beliau
menjelaskan:
“Telah datang kepada kalian
Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah Ta’ala wajibkan kalian untuk berpuasa
padanya, dibukakan padanya pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka
Jahim, dan dibelenggu setan-setan yang membangkang. Pada bulan tersebut, Allah
memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (seseorang beribadah
selama itu). Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, sungguh ia orang yang
terhalang (dari seluruh kebaikan)”2.
Imam ath-Thabari rahimahullah (310 H) dan Imam Ibnu Katsir
rahimahullah (774 H) berkata, “Sufyan ats-Tsauri berkata, telah sampai kepadaku
perkataan Mujahid (tentang firman Allah):
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan“. (QS. Al-Qadr: 3).
Beliau berkata, amal (shalih), puasa, dan shalat pada malam
Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan (seseorang melakukan ibadah)”3.
Adapun maksud para ulama tafsir bahwa ibadah pada malam
Lailatul Qadr lebih utama dari ibadah selama seribu bulan adalah (seribu bulan) yang di dalamnya tidak terdapat
Lailatul Qadr 4.
Imam al-Albani rahimahullah (1420 H) berkata, “Dan di antara
masa, ada yang telah Allah jadikan seluruh amalan baik padanya lebih utama
(dari waktu-waktu selainnya), seperti pada sepuluh Dzulhijjah dan malam
Lailatul Qadr yang lebih baik dari
seribu bulan, yaitu seluruh amalan pada malam itu lebih utama (lebih baik) dari
amalan selama seribu bulan tanpa
Lailatul Qadr di dalamnya”5.
Bahkan, malam tersebut diliputi kesejahteraan dan
keselamatan, sebagimana firman-Nya:
“Malam itu (penuh) kesejahteraan
sampai terbit fajar” (QS. Al-Qadr: 5).
Maksudnya adalah pada malam Lailatul Qadr penuh dengan
seluruh kebaikan dan keberkahan, selamat dari segala kejahatan dan keburukan
apapun, setan-setan tidak mampu berbuat kerusakan dan kejahatan sampai terbit
fajar di pagi harinya. Ini adalah perkataan sebagian besar ulama seperti
Mujahid (104 H), Nafi’ (117 H), Qatadah (± 113 H), Ibnu Zaid, Abdurrahman bin
Abi Laila (83 H), dan lain-lainnya 6.
Adapun yang dikatakan oleh Asy Sya’bi rahimahullah (± 101 H)
adalah pada malam itu para malaikat memberikan ucapan salam kepada para penghuni masjid-masjid (yang beribadah di
dalamnya) sampai terbit fajar7.
Apakah Lailatul Qadr
Merupakan Kekhususan Umat Islam, Ataukah Juga Terdapat Pada Umat-umat
Sebelumnya?
Imam as-Suyuthi rahimahullah (911 H) membawakan sebuah
hadits yang dikeluarkan oleh ad-Dailami rahimahullah (509 H) dari Anas bin
Malik a (93 H), bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah memberikan
Lailatul Qadr kepada umatku, dan tidak memberikannya kepada (umat-umat)
sebelumnya“8.
Akan tetapi, hadits ini maudhu’ (palsu)9, sehingga tidak
bisa dijadikan hujjah atau landasan sama sekali. Al-Khathabi rahimahullah (388
H) menghikayatkan ijma’ (kesepakatan) para ulama bahwa Lailatul Qadr terdapat
pula pada umat-umat sebelum umat Islam10. Ibnu Katsir rahimahullah (774 H) dan
As Suyuthi rahimahullah (911 H) di dalam kitab-kitab tafsir mereka11,
membawakan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Malik rahimahullah (179 H) di
kitab al-Muwaththa’-nya12, beliau berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah
diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya (yang relatif panjang) sesuai dengan
kehendak Allah, sampai (akhirnya) usia-usia umatnya semakin pendek (sehingga)
mereka tidak bisa beramal lebih lama sebagaimana umat-umat sebelum mereka
beramal karena panjangnya usia mereka, maka Allah memberikan Rasulullah
Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan“.
Lalu Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari hadits ini dan
berkata, “Sesuatu yang diisyaratkan oleh hadits ini adalah adanya Lailatul Qadr
pada umat-umat terdahulu sebelum umat Islam”. Namun, hadits ini pun dha’ifun
mu’dhal (lemah dan terputus sanadnya dengan terjatuhnya dua perawi hadits
secara berurutan), sebagaimana yang telah dihukumi oleh Imam al-Albani
rahimahullah13. Dengan demikian, tidak ada ada dalil shahih yang menunjukkan
adanya Lailatul Qadr pada umat-umat sebelum umat Islam, sebagaimana tidak
ditemukan pula dalil shahih yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadr merupakan
kekhususan umat Islam. Wallahu A’lam.
Apakah Lailatul Qadr
Akan Terus Berlangsung Ada Pada Setiap Tahun Hingga Akhir Zaman?
Imam Ibnu Katsir rahimahullah (774 H), di dalam kitab
Tafsirnya membawakan hadits lain dengan menukil riwayat Imam Ahmad rahimahullah
(241 H) di dalam Musnad-nya14 dari Abu Dzar radhiallahu’anhu (32 H) yang
berkata:
“Wahai Rasulullah, beritahu aku tentang
Lailatul Qadr! Apakah malam itu pada bulan Ramadhan ataukah pada selainnya?
Beliau berkata, “Pada bulan Ramadhan”, (dengan demikian, Lailatul Qadr sudah
ada) bersama para Nabi terdahulu, lalu apakah setelah mereka meninggal dunia,
malam Lailatul Qadr tersebut diangkat? Ataukah malam tersebut tetap ada sampai
hari kiamat? Nabi ٍShallallahu’alaihi
Wasallam menjawab, “Akan tetap ada sampai hari kiamat…“15.
Kemudian, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Pada
hadits ini terdapat isyarat seperti yang telah kami sebutkan, bahwa Lailatul
Qadr akan tetap terus berlangsung sampai hari kiamat pada setiap tahunnya.
Tidak seperti yang diyakini oleh sebagian kaum Syi’ah bahwa Lailatul Qadr sudah
diangkat (tidak akan pernah terjadi lagi), disebabkan keliru dalam memahami
hadits yang akan kami terangkan sebentar lagi…16 karena maksud (hadits) yang
sesungguhnya adalah diangkatnya pengetahuan kapan terjadinya malam Lailatul
Qadr17. Juga terdapat isyarat bahwa Lailatul Qadr khusus terjadi pada bulan
Ramadhan saja dan tidak terjadi pada bulan-bulan lainnya…”18.
Pendapat inilah (yang mengatakan bahwa Lailatul Qadr
terdapat pula pada umat-umat sebelum umat Islam) yang didukung kuat oleh Ibnu
Katsir di dalam kitab Tafsirnya19, karena banyaknya hadits-hadits lain yang
shahih yang memperkuat hal itu, sebagaimana hadits-hadits yang akan diterangkan
berikut. Wallahu A’lam.
Kapankah Lailatul
Qadr?
Sudah dijelaskan diatas berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan
hadits-hadits Nabi yang shahih bahwa Lailatul Qadr terjadi pada satu malam saja
dari bulan Ramadhan pada setiap tahunnya, akan tetapi tidak dapat dipastikan
kapan terjadinya20. Sehingga banyak sekali hadits-hadits dan atsar-atsar yang
menerangkan waktu-waktu malam yang mungkin terjadi padanya Lailatul Qadr21. Di
antara waktu-waktu yang di terangkan hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Pada malam pertama di bulan Ramadhan. Imam Ibnu Katsir
rahimahullah (774 H) berkata, “Ini dihikayatkan dari Abu Razin al-‘Uqaili
radhiallahu’anhu, seorang sahabat”22.
2. Pada malam ke tujuh belas di bulan Ramadhan. Imam Ibnu
Katsir rahimahullah berkata, “Dalam hal ini Abu Dawud telah meriwayatkan hadits
marfu’23 dari Ibnu Mas’ud, juga diriwayatkan dengan mauquf24 darinya, Zaid bin
Arqam, dan Utsman bin Abi Al ‘Ash 25. Dan ini adalah salah satu perkataan
Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, juga dihikayatkan dari al-Hasan al-Bashri.
Mereka semua beralasan karena (malam ke tujuh belas Ramadhan adalah) malam
(terjadinya) perang Badr, yang terjadi pada malam Jum’at, malam yang ke tujuh
belas dari bulan Ramadhan, dan di pagi harinya (terjadilah) perang Badr, itulah
hari yang Allah katakan dalam firman-Nya: “… Di hari Furqaan, yaitu di hari
bertemunya dua pasukan…” (QS. al-Anfaal: 41)26.
3. Pada malam ke sembilan belas di bulan Ramadhan. Pendapat
ini dihikayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit
radhiyallahu ‘anhum27.
4. Pada malam ke dua puluh satu di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu’anhu,
beliau berkata:
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan i’tikaf
pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kami pun melakukan i’tikaf
bersamanya. Lalu Jibril datang dan berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau minta
(cari) ada di depanmu”, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah
pada pagi hari yang ke dua puluh di bulan Ramadhan dan bersabda, “Barangsiapa
yang i’tikaf bersama Nabi, maka kembalilah (untuk melakukan i’tikaf)! Karena
sesungguhnya aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr, dan aku sudah lupa.
Lailatul Qadr akan terjadi pada sepuluh hari terakhir pada (malam) ganjilnya,
dan aku sudah bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Dan saat itu
atap masjid (terbuat dari) pelepah daun pohon kurma, dan kami tidak melihat
sesuatupun di langit, lalu tiba-tiba muncul awan dan kami pun dituruni hujan.
Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat bersama kami
sampai-sampai aku melihat bekas tanah dan air yang melekat di dahi dan ujung
hidung beliau sebagai bukti benarnya mimpi beliau28. Asy-Syafi’i rahimahullah
berkata, “Hadits ini adalah riwayat paling shahih”29.
5. Pada malam ke dua puluh tiga di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdullah bin Unais radhiallahu’anhu,
beliau berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Aku telah diperlihatkan Lailatul
Qadr kemudian aku dibuat lupa, dan aku bermimpi bahwa aku bersujud di atas
tanah dan air”. Maka kami dituruni hujan pada malam yang ke dua puluh tiga. Dan
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat bersama kami kemudian beliau
pergi sedangkan bekas air dan tanah masih melekat pada dahi dan hidungnya. Dan
Abdullah bin Unais radhiallahu’anhua berkata, “Dua puluh tiga”.30
6. Pada malam ke dua puluh empat di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu,
beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Lailatul Qadr malam yang ke dua
puluh empat”31.
Pendapat ini telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu
Abbas, Jabir, al-Hasan, Qatadah, Abdullah bin Wahb. Mereka mengatakan bahwa
Lailatul Qadr terjadi pada malam yang ke dua puluh empat 32.
7. Pada malam ke dua puluh lima di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhuma,
beliau berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,
“Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh
malam terakhir dari bulan Ramadhan, pada malam yang ke sembilan tersisa, malam
yang ke tujuh tersisa, malam yang ke lima tersisa”33.
8. Pada malam ke dua puluh tujuh di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang di keluarkan oleh Imam Muslim dari
Ubay bin Ka’ab radhiallahu’anhu: Dari ‘Abdah dan Ashim bin Abi An Nujud, mereka
mendengar Zirr bin Hubaisy berkata,
“Aku pernah bertanya kepada Ubay bin
Ka’ab, aku berkata, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, barangsiapa
mendirikan shalat malam selama setahun pasti akan mendapatkan Lailatul Qadr”,
Ubay bin Ka’ab berkata, “Semoga Allah merahmatinya, beliau bermaksud agar
orang-orang tidak bersandar (pada malam tertentu untuk mendapatkan Lailatul
Qadr), walaupun beliau sudah tahu bahwa malam Lailatul Qadr itu di bulan
Ramadhan, dan terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan pada malam yang ke dua
puluh tujuh”. Kemudian Ubay bin Ka’ab bersumpah tanpa istitsnaa’34, dan yakin
bahwa malam itu adalah malam yang ke dua puluh tujuh. Aku (Zirr) berkata,
“Dengan apa (sehingga) engkau berkata demikian wahai Abul Mundzir?35” Beliau
berkata, “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu matahari
terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang terik.”36.
Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Abdullah bin Umar
radhiallahu’anhu:
Dari Ibnu Umar, bahwa beberapa orang sahabat Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam diperlihatkan (bermimpi) Lailatul Qadr pada tujuh
malam terakhir, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Aku kira
mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir, maka barang siapa
yang ingin mendapatkannya, carilah pada tujuh malam terakhir tersebut”37.
Demikian pula hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan
radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang
Lailatul Qadr:
“Lailatul Qadr pada malam ke dua
puluh tujuh“38.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan pendapat yang
menyatakan bahwa Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh tujuh merupakan
pendapat sebagian ulama salaf, dan madzhab Ahmad bin Hanbal, dan riwayat dari
Abi Hanifah. Juga telah dihikayatkan dari sebagian salaf, mereka berusaha
mencocokkan malam Lailatul Qadr dengan
karena kata ini adalah kata yang ke dua puluh tujuh dari malam yang ke
dua puluh tujuh dengan firman Allah: (َهي),
surat al-Qadr. Wallahu A’lam”39.
9. Pada malam ke dua puluh sembilan di bulan Ramadhan.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, berkata:
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda
tentang Lailatul Qadr, “Sesungguhnya malam itu malam yang ke dua puluh tujuh
atau ke dua puluh sembilan, sesungguhnya malaikat pada malam itu lebih banyak
dari jumlah butiran kerikil”40.
Juga dalam hadits Ubadah bin Shamit radhiallahu’anhu, beliau
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentang Lailatul Qadr,
maka beliau bersabda:
“Di bulan Ramadhan, maka carilah ia
pada sepuluh malam terakhir, karena malam itu terjadi pada malam-malam ganjil,
pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau
dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam bulan Ramadhan.
Maka barangsiapa menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh pengharapan
kepada Allah kemudian dia mendapatkannya, niscaya akan diampuni dosa-dosanya
yang terdahulu dan yang akan datang“41.
10. Pada malam terakhir di bulan Ramadhan. Sebagaimana
diterangkan dalam hadits Ubadah bin Ash Shamit a di atas, dan hadits Abu Bakrah
radhiallahu’anhu, beliau berkata:
“Tidaklah aku mencari malam Lailatul
Qadr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah melainkan pada
sepuluh malam terakhir, karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata,
“Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadhan), atau
tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang
tersisa, atau pada malam terakhir”. Dan Abu Bakrah shalat pada dua puluh hari
pertama di bulan Ramadhan seperti shalat-shalat beliau pada waktu-waktu lain
dalam setahun, tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau
bersungguh-sungguh42.
Dan demikian hadits yang serupa telah diriwayatkan dari
Mu’awiyah radhiallahu’anhu43.
Inilah waktu-waktu yang diterangkan dari berbagai macam
sumber dari kitab-kitab tafsir maupun hadits. Dan jika kita perhatikan kembali,
banyak hadits-hadits shahih yang menerangkan bahwa kemungkinan terbesar
terjadinya Lailatul Qadr adalah di malam-malam ganjil pada sepuluh malam
terakhir bulan Ramadhan, dan terutama pada malam yang ke dua puluh satu dan dua
puluh tujuh.
Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi rahimahullah berkata,
“Dan tidak pernah ada ketentuan atau pembatasan yang memastikan kapan
terjadinya malam Lailatul Qadr pada bulan Ramadhan. Dan ulama telah banyak
membawakan pendapat dan nash-nash (keterangan) yang berkaitan dengan
kemungkinan terjadinya malam Lailatul Qadr. Di antara perkataan (para ulama)
tersebut adalah ada yang sangat umum, bahwa Lailatul Qadr mungkin terjadi pada
setahun penuh. Akan tetapi ini tidak mengandung hal yang baru. Dan perkataan
ini dinisbatkan kepada Ibnu Mas’ud. Namun, sebetulnya maksud beliau adalah
(agar manusia) bersungguh-sungguh (dalam mencarinya). Ada pula yang mengatakan
bahwa malam itu (mungkin) terjadi pada bulan Ramadhan seluruhnya. Dan (mereka)
berdalil dengan keumuman nash-nash al-Quran. Ada pula yang berkata bahwa malam
itu mungkin terjadi pada sepuluh malam terakhir, dan ini lebih khusus dari
pendapat sebelumnya. Dan ada yang berpendapat bahwa malam itu terjadi pada
malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir tersebut. Maka, dari sini ada
yang berpendapat pada malam ke dua puluh satu, ke dua puluh tiga, ke dua puluh
lima, ke dua puluh tujuh, ke dua puluh sembilan, dan malam terakhir; sesuai
dengan masing-masing nash yang menunjukkan terjadinya Lailatul Qadr pada
malam-malam ganjil tersebut. Akan tetapi, pendapat yang paling masyhur dan
shahih (dari nash-nash tersebut) adalah pada malam ke dua puluh tujuh dan dua
puluh satu. Dengan demikian, apabila seluruh nash (dalil) yang menerangkan
bahwa Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut semuanya shahih, maka
besar kemungkinan malam Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil tersebut.
Dan bukan berarti malam Lailatul Qadr tersebut tidak berpindah-pindah, akan
tetapi (ada kemungkinan) dalam tahun ini terjadi pada malam ke dua puluh satu,
dan pada tahun lain yang berikutnya terjadi pada malam ke dua puluh lima atau
dua puluh tujuh, dan pada tahun yang lainnya lagi terjadi pada malam ke dua
puluh tiga atau dua puluh sembilan, dan begitulah seterusnya. Wallahu A’lam44.
Tanda-tanda Lailatul
Qadr
Sebagaimana yang di katakan oleh Ubay bin Ka’ab
radhiallahu’anhu pada hadits yang sudah diterangkan di atas, beliau berkata:
“Dengan tanda yang pernah Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam kabarkan kepada kami, yaitu matahari terbit pada
pagi harinya tanpa sinar yang terik”.
Juga sebagaimana
hadits Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadr,
“Malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin, matahari terbit
di pagi harinya dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik)”45.
Dan juga hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya aku pernah
diperlihatkan (bermimpi) Lailatul Qadr, kemudian aku dibuat lupa, dan malam itu
pada sepuluh malam terakhir, malam itu malam yang mudah, indah, tidak
(berudara) panas maupun dingin“46.
Demikian pula hadits Ubadah bin Ash Shamit radhiallahu’anhu,
bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Lailatul Qadr (terjadi) pada
sepuluh malam terakhir, barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena
berharap keutamaannya maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang
lalu dan yang akan datang, dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh
sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir
di bulan Ramadhan”, dan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda pula,
“Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada
bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas, pada
malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya, dan
sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah matahari di pagi harinya terbit dengan
indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan
bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu”47.
Keutamaan Lailatul Qadr & Amalan-amalan Yang Utama
Dikerjakan Pada Malam Itu
Adapun keutamaan Lailatul Qadr maka cukuplah bagi kita
firmanNya yang telah diterangkan di atas:
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari
seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” [QS.
Al-Qadr: 3-4].
Dan mengenai amalan-amalan yang utama untuk dilakukan pada
malam tersebut, maka di antaranya adalah:
1. Melakukan i’tikaf
Sebagaimana hadits
A’isyah radhiallahu’anha, beliau berkata:
“Sesungguhnya Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir di
bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau
melakukan i’tikaf setelahnya“48.
Demikian hadits yang semisal dengannya adalah hadits
Abdullah bin Umar49.
Dan hadits lainnya
dari A’isyah radhiallahu’anha, beliau berkata:
“Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang
tidak beliau lakukan pada waktu-waktu lainnya“50.
Terdapat pula hadits
lainnya dari A’isyah radhiallahu’anha, beliau berkata:
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengikat sarungnya,
menghidupkan malamnya dan membangunkan istri-istrinya (untuk shalat malam)“51.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Dan makna
perkataan A’isyah: (ُشدَّ
مِئْزَرَهُ), dikatakan
maknanya adalah menjauhi istri (tidak menggaulinya), dan ada kemungkinan
bermakna kedua-duanya (mengikat sarungnya dan tidak menggauli istri)”52.
2. Memperbanyak doa
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Dan sangat
dianjurkan untuk memperbanyak doa pada setiap waktu, terlebih di bulan Ramadhan, dan terutama lagi pada sepuluh malam
akhirnya, di malam-malam ganjilnya”53.
Dan doa yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam adalah seperti yang ditunjukkan oleh hadits A’isyah berikut ini,
“beliau berkata: Wahai Rasulullah,
seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, doa apa yang aku katakan?
Beliau berkata, “Katakan: /Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwan fa’fu
‘anni/ Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau menyukai maaf,
maka maafkan aku”54.
3. Menghidupkan malam
Lailatul Qadr dengan melakukan shalatْatau ibadah lainnya.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah
radhiallahu’anhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan
dengan penuh keimanan dan pengharapan (dari Allah), niscaya akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadrdengan penuh keimanan dan pengharapan (dari Allah), niscaya akan diampuni
dosa-dosanya yang telah lalu“55.
Akhirnya, penulis mengajak kepada segenap pembaca yang
mudah-mudahan senantiasa dimuliakan Allah, agar selalu bertakwa kepada-Nya,
kapanpun dan di manapun kita berada. Marilah kita selalu berdoa dan meminta
kepada-Nya, memohon taufiq-Nya agar kita diberi kemudahan dalam ketaatan
kepada-Nya, diberi kesempatan untuk dapat menuai pahala dari-Nya dengan
berpuasa, qiyamul lail dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan
pada tahun ini, sehingga kita keluar dari bulan yang penuh berkah ini dengan
penuh keimanan, takut, berharap dan cinta hanya kepada-Nya semata. Dan
mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing dan memberikan kita kekuatan untuk
tetap tsabat dan istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus, jalan orang-orang yang
diridhai dan diberikan kenikmatan olehNya sampai kita bertemu dengan-Nya nanti.
Amin.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Sumber: muslim

0 komentar :
Posting Komentar